72thRI : LITERASI, BUKU DAN KEBANGGAAN




"72 tahun sudah Indonesia merdeka. Hidup mandiri sebagai bangsa besar. Merangkak dari awal demi naik sebagai negara yang garang. Indonesia terus tembuh sejak dari awal, semenjak kemerdekaan, dimana kita dituduh bahwa kemerdekaan kita hanyalah sebuah hadiah tanda kasih sayang. Dimana musuh lama yang sudah pulang kampung, datang tanpa diundang karena tak mengakui bahwa kita sudah berdiri tegak. Dimana muncul orang-orang yang ingin mengambil kekuasaan. Dimana timbul kekuasaan sebelah tangan. Dimana sekarang, demokrasi perlahan disetarakan."

72 tahun bukan umur yang muda bagi seorang manusia. Tapi, bagi suatu bangsa, 72 tahun terbilang muda. Masih ingat dengan baik kita bagaimana Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan, karena banyak sumber dan tentu sudah diajarkan sejak sekolah dasar. Sekarang, setelah 72 tahun, Indonesia sudah tumbuh besar, disegani dunia.

Banyak kemajuan-kemajuan yang ditorehkan putra-putri bangsa demi nama baik Indonesia di kancah dunia. Dari bidang penerbangan, teknologi, sains, hingga literasi.

Orang Indonesia nggak jago nulis!

Siapa bilang sih penulis Indonesia nggak pintar nulis. Masalah literasi memang masih pelik dan menjadi perhatian kesekian pemerintah. Sejak dulu memang, literasi seakan menjadi anak tiri yang tak penting-penting amat.

Tapi, marilah kita selidik bagaimana nasib penulis-penulis Indonesia yang berjaya walaupun ditengah keadaan yang pelik.




 Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan Indonesia yang berjaya dan dikenal luas oleh orang-orang di luar negeri. Pram sudah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing. Tak kurang dari 10 penghargaan internasional sudah disandang Pram. Bahkan, Pram pernah dua kali menjadi kandidat sebagai penerima Nobel Sastra, penghargaan tertinggi dalam bidan sastra di dunia.


 Andrea Hirata

Andrea Hirata terkenal semenjak novel tetralogi pertamanya, Laskar Pelangi, diterbitkan Bentang Pustaka. Sambutan hangat dari jutaan pembaca Indonesia begitu meriah karena Andrea Hirata hadir dengan cerita yang inspiratif dan gaya penceritaan yang unik. Novel Laskar Pelangi menjadi pembicaraan hangat dan tentu saja menjadi bestseller dimana-mana., hingga dilirik oleh penerbit-penerbit asing. Laskar Pelangi kemudian diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing dan diterbitkan di lebih 130 negara di dunia. Banyak juga gelar-gelar penghormatan yang tersemat di nama beliau karena novel Laskar Pelangi benar-benar menyentuh banyak pembaca.


Cukup di situ?

Tidak. Masih banyak penulis-penulis Indonesia lainnya yang berhasil menembus pasar internasional, seperti Eka Kurniawan dan Arafat Nur. dll

Ini tentunya menjadi kebanggaan bagi kita bangsa Indonesia. Di tengah masalah literasi yang pelik dan minat baca masyarakat yang masih rendah, penulis-penulis Indonesia mampu unjuk gigi di pentas dunia. 72 tahun Indonesia merdeka. 72 tahun Indonesia hebat.

Lalu apa yang salah?

Masalah literasi seharusnya dan semestinya menjadi masalah yang harus diurus serius oleh pemerintah. Bukan apa-apa, literasi suatu bangsa adalah modal utama menjadikan bangsa ini maju dan beradab. Literasi lah yang mampu membangun jiwa-jiwa manusia menjadi lebih baik. 

Tapi, benar kah demikian?

Satu hal yang paling pelik dalam masalah ini adalah : Kenapa buku dikenakan pajak? Besar pula!

Pemerintah menganggap pajak royalti (upah) penulis sama saja dengan pajak royalti bisnis. Jika seorang penulis mempunyai NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), maka dikenakan sebesar 10%, sedangkan yang tidak dikenakan pajak sebesar 30%. 

Fakta bahwa penghasilan penulis saja, sebelum dihitung pajak, sangat kecil di negeri ini yang minat bacanya rendah. Bayangkan dari penghasilan yang kecil itu dikenakan pajak pula sebesar 30%. Dianak tirikan? Iya.

Indonesia mempunyai bibit-bibit penulis yang sangat berkualiatas. Tapi, menjadi penulis faktanya bukan profesi yang menggiurkan di negeri ini, walaupun bagi seorang penulis uang memang tak terlalu dipikirakan, yang penting karya terbit dan mampu menginspirasi orang. Tapi, manusia tetap butuh uang bukan?

72 tahun Indonesia merdeka. Literasi Indonesia menjadi suatu kebaggaan bagi saya pribadi sebagai pecinta buku, sebagai blogger buku. Literasi yang mempunyai bibit unggul perlahan tumbuh walaupun sulit. Kemajuan bangsa yang patutnya kita berbangga diri.

Tapi, pemerintah mestinya menindaklanjuti masalah literasi ini, khususnya masalah pajak dan kehidupan para penulis. 72 tahun Indonesia, sudah waktunya kita merdeka dari buku-buku asing yang mengancam, waktunya unjuk gigi dengan buku Indonesia yang bermutu. Hidup literasi! Hidup penulis! Jayalah Indonesia!

#FLASHBLOG72RI
72thRI : LITERASI, BUKU DAN KEBANGGAAN 72thRI : LITERASI, BUKU DAN KEBANGGAAN Reviewed by A. RIFALDO on Jumat, Agustus 25, 2017 Rating: 5

2 komentar:

  1. Saya suka kedua novelis diatas. Pram berjaya sebelum zaman internet. Andrea berjaya ketika internet jadi kebutuhan. Dua-duanya orang hebat. Salut untuk mereka.

    salam
    alrisblog.wordpress.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Uda. Keduanya punya kualitas diatas rata2.

      Terimakasih sudah mampir. Blog uda juga keren. Salam blogger minang. Semoga bisa meet up. 😊

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.