Nostalgia Dengan Gunung Marapi

Nostalgia. Mungkin itu yang sekarang saya rasakan. Mengotak-atik folder di laptop dan ternyata ketemu photo-photo jaman lalu, waktu itu mengisi liburan dengan menikmati alam ciptaan Allah. Folder itu saya beri nama “Marapi Part 2 = 24 Juli 16”. Yap, sudah dua kali saya menanjak ke gunung aktif di Sumatra Barat ini.

 
Kalo udah bicara tentang gunung, sebenarnya saya nggak terlalu oke-oke banget soal beginian. Tetapi, saya rasa memang ini selain mengisi liburan dan berolahraga namun juga ajang mempererat pertemanan kami. Kekompakan dikala mendaki dari bawah hingga masang tenda diuji banget. Apalagi waktu itu kami mendaki sore dan sampai dipuncak tengah malam.


Baik, saya mulai aja. Saya membaginya dengan tiga fase : Gerbang ,  Hutan , Puncak.

# Gerbang


Sebenarnya kami nggak punya persiapan khusus mau mendaki hari itu. Berawal dari ngobrol-ngobrol receh entah kenapa besoknya langsung pergi mendaki dan tanpa persiapan yang matang. Hahaha. Benar-benar nekat. 

Kami mulai di Batipuh, tempat saya sekolah dulu, sekitar 5 km dari posko 1 pendakian. Sore hari kami berkumpul, semuanya ada 10 orang. Ingat, kami mendaki cuman modal nekat. Uang yang kami kumpulkan lebih kurang 400.000 untuk 10 orang. 

Naik bis ke pasar Koto Baru. Pasar ini memang pemberhentian pertama para pendaki kalo mulainya lewat posko Koto Baru. Tenang, pasarnya di tepi jalan kok. Untuk kalian para pendaki nekat seperti kami bisa menyewa semua perlengkapan mendaki di pasar ini ; tenda, kompor, dan lainnya. Pun juga bisa membeli keperluan kalian ; shall, scraf, dirigen buat minum atau sekadar nyemil-nyemil dulu sebelum pergi ke posko 1 mungkin. Semuanya lengkap. Yang nggak ada cuman pengisi hati #weleh

Waktu itu kami menyewa dua tenda ; isi 6 orang satu lagi isi 3 orang. Satu tenda kalo nggak salah 40.000 untuk satu hari. Terus beli permen dan roti-rotian. Oh ya, nggak kelupaan indomie (penyelamat semua manusia). Nasi udah kami bawa sih dari rumah.
 
Cuman itu? Iya, cuman itu doang.

Dari pasar Koto Baru, kami berjalan menuju Posko 1 yang kira-kira jaraknya 2 km. Udaranya udah sejuk banget dan lagian kita bakalan lewat perkebunan warga jadi capeknya nggak terasa amat lah. Kalo kalian mau jalan kaki nggak usah khawatir bakalan capek.

Perjalan kalo tanpa drama nggak asyique. 

Posko 1 itu tempat pendaki daftarin nama (bahasa alusnya ; izin mendaki) dan membayar uang “keamanan” sebesar 20.000 per kepala. Selain itu juga ditanya nomor hp dan berapa lama mendaki, jadi kalo belum turun-turun selama waktu yang disebutin tadinya, orang-orang ini bakalan datang ke atas buat jemput kita. Gitu.

Karena kami modal nekat aja dan uang pas-pasan. Ada rencana kami nyelundup langsung ke atas tanpa lapor dulu ke Posko 1, nyelundupnya lewat perkebunan warga yang memang agak tersamarkan dari Posko 1. Tiga orang teman saya lebih dulu lewat kebun itu dan berhasil, saat kami, sisanya juga ngendap-ngendap mau lewat, kami malah disorakin dari Posko 1 dan sialnya pendaki lain juga banyak banget yang liatin. Malu bro, malu :v ketahuan banget kalo kami nggak punya duit. Alhasil, cuman satu orang yang berhasil lewat dan nggak bayar karena dua tadi ikut kami ke Posko 1.😢

Waktu itu udah jam 5 sorean, kabut daerah pegunungan udah turun dan kami baru mau mulai berjalan dari Posko 1 dengan sedikit drama yang super bikin malu.
 

# Hutan

Menuju Posko 2 disaat jam 5 sorean sih nggak ada masalah karena langit masih lumayan terang dan jalannya masih biasa aja, belum terlalu menantang. Disaat pendaki lain memutuskan untuk istirahat di sana dan memasang tenda mereka, kami memutuskan untuk lanjut karena tanggung aja kalo harus menunggu pagi dulu buat mulai mendaki, sementara target kami waktu itu adalah melihat sunrise dari puncak gunung.

Alhasil kami lanjut mendaki, menembus hutan hingga sampai di Mata Air Koncek (atau apalah) adzan maghrib berkumandang. Kami berhenti sejenak untuk mengisi persedian air kami dan menunggu adzan maghrib selesai. Langit udah gelap walaupun masih bisa melihat tanpa senter. Tapi, kalau suasananya lagi di dalam hutan lumayan juga sih ! ehem.😏

Masuk ke hutan dan nggak ada kelompok lain selain kami, hanya bermodal satu senter besar dan selebihnya make senter dari korek api gas yang harganya 2 ribuan. Benar-benar nekat. 10 orang dan jalan santai aja, prioritas kami waktu itu yang penting nyampe karena takutnya kalo cepat-cepat di hutan yang udah gelap terjadi hal-hal yang nggak bagus. Jadi kami jalan nyantai dan kalo ada yang capek berhenti dulu. Untuk memecah suasana kami sepakat untuk selalu bicara waktu perjalanan—haha, biar nggak seram-seram amat. 

Kian jauh berjalan, cahaya senter makin redup. Hanya beberapa buah senter yang bisa hidup. Hingga yang tersisa cuman dua, satu di depan satu lagi di belakang. Modal meraba-raba dan insting jalan mana yang ditempuh karena hari udah gelap banget. Untungnya ada teman saya yang udah hafal jalannya walaupun gelap-gelapan.

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan kelompok lain yang alhamdulillah punya senter. Dan mereka juga sepakat buat gabung sama kami. Akhirnya setelah perjalanan kurang lebih 6 jam kami sampai di tempat perkemahan yang disebut Cadas. Oh ya, sesudah Posko 2 udah nggak ada posko lainnya lagi walaupun di dalam hutan ada tempat-tempat buat kemah tapi jarang sih ada orang yang mau masang tenda di hutan karena cukup berbahaya. Mungkin yang sanggup cuman mereka yang bawa golok atau samurai dan segenggam cinta eh garam.

# Puncak

Eips, jangan bilang pas sampai di Cadas berarti udah sampai di puncak. Cadas cuman daerah yang udah gundul tempat kebanyakan pendaki masang tenda buat istirahat sebelum lanjut ke puncak. Cadas ini tempat paling rame karena rata-rata pendaki bakalan istirahat di sini.

Enaknya di Cadas ada warung yang jual minuman, gorengan dan makanan lainnya. Warung ini buka pas hari sabtu dan minggu atau hari-hari yang rame pendakinya (17 an atau tahun baru). Warung ini juga make genset jadi satu-satunya tenda yang pake lampu ya ini. Gunung Marapi emang spesial banget diantara gunung-gunung lain karena yang punya banyak uang bisa aman kalo masalah perut.👌

Setelah mencari-cari tempat, akhirnya kami dapat tempat buat masang tenda tapi tempatnya agak miring gitu. Ya udah tetap dipasang. Tenda berdiri dan kami akhirnya makan. Seadanya banget. Tapi habis juga mungkin karena udah lapperrr. 

Cadas : Tempat Berkemah

Menikmati istirahat di Cadas emang nggak ada duanya. Setelah capek-capekan mendaki di hutan akhirnya bisa sampai di Cadas yang pemandangannya keren banget pas malam hari. Kerlap-kerlip lampu di bawah terlihat jelas dan yang paling indah hamparan lampu Kota Bukittinggi yang terang banget. Lagipula, kita juga bisa main hp sekadar update status #jamannowbanget karena sinyal di sini lancar jaya. 

Setelah puas duduk lenyeh-lenyeh, nyanyi-nyanyi bareng, kami akhirnya tidur.

Subuh-subuh adalah waktu terbaik buat lanjutin perjalanan ke puncak. Masih ada satu jam lagi ke atas puncak, jalannya kali ini berliku-liku dan bebatuan, cukup terjal tetapi nggak berbahaya asalkan ngikutin jalan yang udah ada. Buat mempermudah perjalanan, barang-barang yang nggak perlu cukup ditinggalin di tenda aja.

Pendaki lain juga banyak pergi ke puncak pas subuh-subuh ini, mungkin nggak ada pendaki yang mau lewatin sunrise yang luar biasa cantik. Salah satu budaya pendaki di Minang adalah menyapa semua laki-laki dengan sebutan Pak, dan perempuan dengan sebutan Buk. Sapaan ini nggak mandang kecil atau besar, udah menjadi budaya kalau setiap berpapasan buat nyapa seperti itu, entah siapa yang mulai dan kapan. Tapi ini udah jadi aturan tak tertulis tersendiri.

Sunrise 🌞🌞

 
Di puncak tanahnya udah datar dan dekat dengan kawah yang masih aktif, kadang-kadang ngeluarin asap belerang. Biasanya di sini waktu 17-an para pendaki ngelakuin upacara. Tapi, ini masih belum puncak tertinggi (hahaaha, masih ada ding) 😅. Puncak tertinggi di Gunung Marapi adalah Puncak Merpati, kurang lebih 20 menit perjalanan dari tempat upacara. Dari sini teman-teman bisa lihat dengan jelas danau Singkarak yang luas itu. Juga sawah-sawah dan perbukitan yang hijau. Duduk-duduk sejenak di sini dan ini salah satu spot paling bagus buat photo-photo.
Pemandangan dari Puncak Merpati


Berjalan ke bawah dari Puncak Merpati adalah tempat yang paling saya suka. Di sana ada Taman Bungan Edelweis atau Bunga Abadi yang masih terawat bagus. Ini favorit saya karena indah banget bisa melihat hamparan bunga yang hanya ada di gunung ini loh. Spot photo yang sangat sayang kalo dilewatin. 
Taman Bunga Edeilweis

Bunga Edelweis

[TIPS-TIPS MENDAKI DI GUNUNG MARAPI, SUMATRA BARAT] :
1.    Beli dan cukupkan perlengkapan dan logistik di Pasar Koto Baru terlebih dahulu. Isi tenaga dengan beli makanan juga boleh. Pastikan obat-obatan cukup.
2.    Senter penting banget.
3.    Jika ingin menikmati sunset mulai mendaki jam 11 an. Biasanya perjalanan hingga sampai di Cadas 5-7   jam.
4.    Nggak usah terburu-buru. Santai aja bos, ngapain buru-buru, nikmatin tu perjalanan.
5.    Pastikan air terisi penuh dan cukup untuk semua kelompok.
6.    Bawa ranting-ranting dari bawah biar bisa bikin api unggun.
7.    Sapa semua pendaki.
8.    Berkemah di Cadas aja. Pemandangannya indah dan aman. Cari tempat yang datar.
9.    Subuh-subuh tancap gas ke puncak.
10.    Jangan mudah menyerah.
 
[JANGAN PERNAH LAKUKAN HAL INI] :
1.    Takabur.
2.    Sombong.
3.    Buang sampah sembarangan.
4.    Bicara kotor.
5.    Kelakuan kotor.
6.    Bakar-bakar sampah di hutan.
7.    Metik Bunga Edelweis.
Mendaki gunung memang jadi aktivitas yang menyenangkan buat ngisi waktu libur. Banyak pengalaman yang saya dapat, banyak kesenangan, susah bareng, capek bareng, dan senang bareng. Menikmati alam ciptaan Allah yang super indah salah satu cara agar kita selalu bersyukur sebagai hamba-Nya.

Teman-teman harus coba. Jangan tanya alasannya kenapa !
 

Pertanyaannya sekarang adalah : kapan kita mendaki bareng ? 

Tags : Keindahan gunung marapi sumbar , perjalanan gunung marapi sumbar , cadas gunung marapi , mendaki gunung


2 komentar:

  1. Tips mendakinya ok banget mas.
    pengen deh sesekali daki gunung. sekali pun belum pernah.
    pemandangannya keren banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak :)

      Sesekali Mbak harus coba daki gunung. Banyak pengalaman hebat yang menanti Mbak kok . hehe

      Hapus

Adbox